BJ Habibie Dinobatkan sebagai Tokoh Peduli Pendidikan Agama
JAKARTA - Kementrian Agama menganugerahkan penghargaan kepada mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai tokoh yang peduli dan memberikan perhatian tinggi terhadap kemajuan pendidikan keagamaan di Indonesia.
Selain kepada BJ Habibie, penghargaan juga diberikan kepada mantan Menteri Agama pada era Presiden Abdurahman Wahid Tolhah Hasan, Gubernur Provinsi Lampung Sjachroedin ZP, dan Gubernur Provinsi Maluku Karel Albert Ralahalu.
Menurut Ketua Panitia Kegiatan Affandy Muchtar, Senin (2/1/2012), penghargaan tersebut dilakukan dalam rangka Hari Ulang Tahun Kementerian Agama yang ke-66.
Selain kepada BJ Habibie, penghargaan juga diberikan kepada mantan Menteri Agama pada era Presiden Abdurahman Wahid Tolhah Hasan, Gubernur Provinsi Lampung Sjachroedin ZP, dan Gubernur Provinsi Maluku Karel Albert Ralahalu.
Menurut Ketua Panitia Kegiatan Affandy Muchtar, Senin (2/1/2012), penghargaan tersebut dilakukan dalam rangka Hari Ulang Tahun Kementerian Agama yang ke-66.
Penghargaan kepada empat tokoh tersebut akan diberikan langsung oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali besok malam di kantor Kementrian Agama Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat.
Selain memberikan penghargaan, pihaknya juga akan menggelar rangkaian kegiatan seperti acara malam apresiasi pendidikan Islam. Dalam acara tersebut Kemenag akan memberikan penghargaan kepada 13 Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, siswa, santri, mahasiwa, giru dan pustakawan berprestasi. Lembaga pendidikan yang berprestasi tingkat nasional dan internasional pun akan menerima penghargaan tersebut.
Tidak hanya itu, Kemenag juga telah menyiapkan ribuan beasiswa pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis bagi siswa dan masyarakat umum.(ded)
Selain memberikan penghargaan, pihaknya juga akan menggelar rangkaian kegiatan seperti acara malam apresiasi pendidikan Islam. Dalam acara tersebut Kemenag akan memberikan penghargaan kepada 13 Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, siswa, santri, mahasiwa, giru dan pustakawan berprestasi. Lembaga pendidikan yang berprestasi tingkat nasional dan internasional pun akan menerima penghargaan tersebut.
Tidak hanya itu, Kemenag juga telah menyiapkan ribuan beasiswa pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis bagi siswa dan masyarakat umum.(ded)
Habibie Dapat Penghargaan dari Menteri Agama
Menteri Agama Suryadharma Ali memberikan Penghargaan Amal Bhakti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan kepada Bacharuddin Jusuf Habibie. BJ. Habibie mendapat penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan Islam. Penghargaan ini berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 223 Tahun 2011 tentang penerima penghargaan apresiasi pendidikan Islam tahun 2011.
Selain Habibie, yang menerima penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan Islam adalah mantan Menteri Agama pada Kabinet Persatuan Nasional periode 1999-2001 Muhammad Tholhah Hasan.
Selain itu, Kementerian Agama juga memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten atau kota sebagai pemerintah peduli pendidikan agama dan keagamaan. Ada 15 pemerintah daerah yang mendapatkan penghargaan tersebut yaitu Lampung, Maluku, Kota Banjar, Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Serang, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Sumenep, Kota Makassar, Kota Tegal, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kolaka.
Selain itu, Suryadharma juga memberikan penghargaan kepada dua pesantren untuk memberikan apresiasi pendidikan Islam bidang pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Pondok Pesantren itu adalah, Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri dan Bustanul Ulum, Banyuanyar, Pamekasan, Madura.
Menteri Agama juga memberikan kepada sejumlah guru dan siswa berprestasi. "Kita lihat hari ini adalah bapak dan ibu membuat hal baik di tahun 2011, oleh karena itu pemerintah memberikan kepada pada santri, guru-guru, siswa yang mengukir prestasi, saya berharap apa yang sudah dilakukan tidak berhenti di 2011 tapi meningkat di 2012," kata Suryadharma di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Senin 2 Januari 2012.
Suryadharma juga berpesan, bahwa pendidikan agama hendaknya menjadi tanggung jawab bersama. "Ada dua pandangan di sini, pandangan pertama pendidikan agama merupakan sentralistis jadi tanggung jawab (pemerintah) pusat, ada juga berpendapat pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tapi pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama," kata dia.
Pendidikan agama, kata Suryadharma menjadi sangat penting karena saat ini telah terjadi penurunan aklak, berkurangnya sopan santun anak-anak, serta kurangnya toleransi. "Jadi pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting, karena terjadi kelemahan pendidikan agama di sini," kata dia. (eh)
Selain Habibie, yang menerima penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan Islam adalah mantan Menteri Agama pada Kabinet Persatuan Nasional periode 1999-2001 Muhammad Tholhah Hasan.
Selain itu, Kementerian Agama juga memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten atau kota sebagai pemerintah peduli pendidikan agama dan keagamaan. Ada 15 pemerintah daerah yang mendapatkan penghargaan tersebut yaitu Lampung, Maluku, Kota Banjar, Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Serang, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Sumenep, Kota Makassar, Kota Tegal, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kolaka.
Selain itu, Suryadharma juga memberikan penghargaan kepada dua pesantren untuk memberikan apresiasi pendidikan Islam bidang pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Pondok Pesantren itu adalah, Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri dan Bustanul Ulum, Banyuanyar, Pamekasan, Madura.
Menteri Agama juga memberikan kepada sejumlah guru dan siswa berprestasi. "Kita lihat hari ini adalah bapak dan ibu membuat hal baik di tahun 2011, oleh karena itu pemerintah memberikan kepada pada santri, guru-guru, siswa yang mengukir prestasi, saya berharap apa yang sudah dilakukan tidak berhenti di 2011 tapi meningkat di 2012," kata Suryadharma di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Senin 2 Januari 2012.
Suryadharma juga berpesan, bahwa pendidikan agama hendaknya menjadi tanggung jawab bersama. "Ada dua pandangan di sini, pandangan pertama pendidikan agama merupakan sentralistis jadi tanggung jawab (pemerintah) pusat, ada juga berpendapat pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tapi pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama," kata dia.
Pendidikan agama, kata Suryadharma menjadi sangat penting karena saat ini telah terjadi penurunan aklak, berkurangnya sopan santun anak-anak, serta kurangnya toleransi. "Jadi pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting, karena terjadi kelemahan pendidikan agama di sini," kata dia. (eh)
Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si
Jakarta, (Pendis) - Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si, Selasa (17/1) dilantik oleh Menteri Agama Suryadharma Ali menjadi Dirjen Pendidikan Islam menggantikan Prof.Dr. Mohammad Ali, MA.
Dalam pelantikan tersebut Menag Suryadharma Ali berpesan agar Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, dapat melakukan penguatan peran dan kualitas pendidikan Islam sehingga kehadirannya lebih dirasakan di tengah masyarakat.
Pendidikan Islam sebagai salah satu pilar pendidikan nasional, kata Menag, yang meliputi pendidikan madrasah, pesantren dan perguruan tinggi agama Islam, memerlukan penguatan dan peningkatan kualitas sehingga keberadaannya diperhitungkan dalam dunia pendidikan di masa kini dan masa depan.
Bagi lelaki kelahiran Tuban 7 Agustus 1958 ini berkiprah di lingkungan perguruan tinggi, bukan barang baru, karena sebelum menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel, sejak tahun 1988, beliau telah bergelut dengan dunia pendidikan tinggi di lingkungan IAIN Sunan Ampel sebagai asisten ahli madya hingga menjadi guru besar pada tahun 2005. Jabatan strukturral beliau dimulai tahun 1989 sebagai Plh Ketua Jurusan Penerangan dan Penyiaran Agama Islam Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Tahun 1991 Ketua Laboratorium Dakwah pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Tahun 1996 Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Tahun 2001 Sekretaris Kopertais Wilayah IV (Jawa Timur, Bali, NTB, NTT), Tahun 2005 Pembantu Rektor (II) Bidang Administrasi, Keuangan & Perencanaan, dan tahun 2009 sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel sempai sekarang.
Jenjang pendidikan yang pernah ditempuh Nur Syam Tahun 1982 Sarjana Muda (BA) Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Tahun 1885 Sarjana Ilmu Dakwah pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Tahun 1997 Magister Ilmu Sosial Universitas Airlangga, dan menyelesaikan program S3 (doktor) tahun 2003 di Universitas Airlangga sebagai Doktor Ilmu Sosial.
Selain menjadi dosen di Fakultas Dakwah dan Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, kini juga masih mengajar pada PPs IAI Ibrahimi Situbondo, PPs IAI Tribakti Kediri, PPs STAIN Tulungagung dan PPs Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang. Selain itu, pada tahun 2006 juga berkesempatan mengikuti University Management Workshop di McGill University, Montreal, Canada.
Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si juga aktif melakukan penelitian ilmiah, seperti Etnografi Kehidupan Penganut Tarekat Syatariyah di Kuanyar Mayong Jepara (Toyota Foundation, 1990), Implementasi Program Tribina di Lamongan (Bappeda TK I Jatim, 1991), Konflik dan Integrasi antara NU dan Muhammadiyah (1991), Agama dan Politik, Makna Afiliasi Politik Penganut Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Cukir Jombang (Tesis,1997), Wanita Pekerja Rumahan di Ujung Pandang (Menteri UPW dan PIKI, 1998), Tradisi Islam Lokal Pesisiran; Studi Konstruksi Sosial Upacara pada Masyarakat Palang Tuban (Disertasi, 2003) dan sebagainya.
Lelaki yang beristrikan Hj. Annisah Sukindah dan dikaruniai 3 orang anak ini adalah akademisi professional dan peneliti berdedikasi tinggi. Puluhan artikel ilmiah & popular telah dipublikasikan oleh berbagai jurnal terakreditasi dan surat kabar berskala nasional maupun internasional. Hampir setiap tahun. Karyanya dalam bentuk buku juga diterbitkan oleh sejumlah penerbit bereputasi nasional. Diantaranya adalah Islam Pesisir (LKiS 2005), Model-Model Pemberdayaan Masyarakat (Pustaka Pesantren, 2005), dan Dakwah Pemberdayaan Masyarakat (Pustaka Pesantren, 2005), Madzhab- madzhab Antropologi (2009), dan sebagainya.
Dewan Pendidikan Usul Guru Berprestasi Diberi Penghargaan

Mondir menjelaskan, selama ini guru maupun kepala sekolah yang berprestasi belum mendapatkan penghargaan dari pemerintah setempat. Padahal, peran mereka dalam mencerdaskan generasi muda sangat penting. "Maka dari itu, pemberian penghargaan terhadap guru dan kepala sekolah berprestasi harus ada. Disamping guru dan kepala sekolah ini, pemerintah juga perlu memberikan penghargaan pada guru tidak tetap (GTT) yang berprestasi," ucapnya.
Menurut dia, hal tersebut dilakukan supaya memberikan suntinkan semangat terhadap para guru untuk memberikan ilmu pada siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), baik di kelas maupun di luar kelas. Ia yakin, dengan cara seperti itu semangat untuk mengajar bagi para guru dan memajukan lembaga pendidikan bagi para kepala sekolah akan terus meningkat.
"Sebab, jika kepala sekolahnya tidak kreatif maka lembaga pendidikan tersebut tidak akan maju. Sekarang kan SD mendapatkan bantuan dana bantuan operasional sekolah. Kalau kepala sekolahnya kreatif maka akan maju sekolah itu," ujarnya.
Mondir menambahkan, pihaknya juga mengimbau pada tokoh ulama agar tidak ikut campur jika ada jabatan kepala sekolah lowong. Sebab, biasanya ada tokoh ulama yang ikut campur. Mereka mengajukan seorang PNS yang kemampuanya masih kurang untuk menjadi kepala sekolah.
"Sayangnya, PNS yang kurang memenuhi sarat ini diangkat menjadi kepala sekolah dengan pertimbangan karena merupakan usulan dari tokoh ulama. Kami minta tokoh ulama jangan ikut-ikut masalah ini, biar Disdik yang menentukan. Siapa yang memenuhi kriteria, dia yang diangkat," paparnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar